hadits arbain tentang iman
Sedangkanpengertian Arbain secara bahasa artinya empat puluh. Secara istilah, Hadits Arbain Nawawi adalah kumpulan hadits sahih yang disusun dalam kitab kecil berisi 42 hadits tentang pokok-pokok ajaran Islam yang dikarang al Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Imam an Nawawi berkomitmen untuk menyantumkan hadits-hadits yang shahih.
BeberapaMasalah Penting yang Terkandung Dalam Hadits Ini. 1. Penjagaan dari Allah ta'ala bagi seorang hamba yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya, yang dalam hal ini berlaku ketentuan dari Allah ta'ala yang disebut, الجزاء من جنس العمل. "Balasan yang sesuai dengan jenis perbuatan.".
Rasulullahsaw bersabda, 'Inilah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada manusia. Tentang ihsan, Rasulullah sawbersabda, "Engkau takut kepada Allah seperti melihat-Nya. ". Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad di Musnad -nyadan Syahr bin Husyab dari Ibnu Abbas ra.
HaditsArbain adalah kumpulan hadits yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi untuk memudahkan kaum muslimin dalam memahami Islam. Kumpulan hadits yang terkemas dalam kitab Arbain Nawawi ini berisikan 40 hadits utama yang mengandung esensi kehidupan umat Islam.. Sebenarnya, ada banyak kitab hadits Arbain yang disusun oleh beberapa ulama, tetapi kitab Arbain dari Imam Nawawi-lah yang terkenal dan
HadisJibril (bahasa Arab: حديث جبرائيل , Hadīts Jibraīl) adalah sebuah hadis yang memuat definisi tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat menurut akidah umat Islam.Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Hurairah.Hadis ini dapat ditemukan di kedua kitab Shahihain, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, juga Arbain Nawawi hadits ke-2.
Les Sites De Rencontres Serieux Gratuit. - Hadits kedua pada Hadits Arbain An-Nawawi membahas mengenai Islam, iman, dan ihsan. Dalam Syarah An-Nawawi, Imam Ibnu Daqiq berkata, hadits agung ini mencakup semua tugas amalan secara lahir dan batin. Hadits ini mengangkut ilmu syariat karena berisikan ilmu tentang sunnah sebagai salah satu induk dalam ajaran Arbain bagian kedua ini cukup panjang. Namun, sarat makna. Darinyalah akan diketahui tentang pentingnya rukun Islam dan rukun iman sebagai pondasi keislaman dan keimanan. Begitu juga dengan ihsan, yaitu hakikat peribadatan kepada Allah SWT. Ibadah di sini yaitu hanya mengharap dan mengingin ridha Allah tentang Islam, iman, dan ihsan ini juga mengajarkan banyak faidah. Terlebih lagi jika ditambah dengan membaca buku-buku Islam tentang keutamaan iman bagi seorang Muslim. Jika didalami, maka kita akan mengetahui bahwa Islam, iman, dan ihsan adalah ajaran yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril Juga Hadits Arbain 1 Semua Perbuatan Tergantung NiatnyaDalam hadits ini dijelaskan bahwa Jibril As datang kepada Rasulullah SAW yang duduk di antara para sahabat dan mengajarkan tentang عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إَذْ طَلَعَ عَلَيْناَ رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ!فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً»قَالَ صَدَقْتَ. فَعجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرِنِي عَنِ الإِيْمَانِ! قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاِئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَومِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ! قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ! قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ فَأخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِها! قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ» ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ» رَوَاهُ Dari Umar Radhiyallahu Anhu juga, ia berkata pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang dia duduk menghadap Nabi SAW, lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan Muhammadur Rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.”Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus membenarkannya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!”Beliau Nabi SAW menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!”Beliau Nabi SAW menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.”Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.”Beliau Nabi SAW menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.”Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” HR Muslim no 8Syaikh bnu Utsaimin menyebutkan banyak 30 faidah yang bisa dipetik dari hadits ini. Yang utama adalah bahwa Islam memiliki lima rukun dan iman mencakup enam adalah amalan-amalan anggota badan dan iman sebagai amalan-amalan hati. Sedangkan penjelasan tentang ihsan yaitu manusia beribadah kepada Tuhannya dengan ibadah yang mengharapkan dan menginginkan Wajah Allah, seolah-olah ia melihatnya, sehingga ia ingin sampai kepada-Nya. Jika ia tidak sampai pada tingkatan tersebut, maka kepada derajat kedua yaitu beribadah kepada Allah karena takut dan menghindari Hari Kiamat merupakan ilmu yang tersembunyi sehingga barang siapa yang mengklaim mengetahuinya, maka ia berdusta. Hari Kiamat hanya memiliki tanda-tanda. Pertama yang sudah berlalu, kedua muncul dalam bentuk baru, dan ketiga tidak datang persis menjelang Hari Kiamat. Yang keempat, ada tanda-tanda terbesar seperti turunnya Isa putra Maryam, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari di tempat terbenamnya.jak
Hadits Arbain Ke 2Penjelasan HaditsHadits ini menunjukkan adanya contoh berpakaian yang bagus, berperilaku yang baik dan bersih ketika datang kepada ulama, orang terhormat atau IslamPengertian ImanIslam dan ImanPengertian IhsanHari Kiamat dan Tanda-tandanyaTanya Jawab Merupakan Salah Satu Metode PembelajaranShare thisRelated posts عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم] Artinya Dari Umar radhiyallahu anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata Baca Juga ; Kultum Singkat Tentang Sedekah Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana. ” Laki-laki tersebut berkata Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Iman itu adalah Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk. ” Ia berkata Engkau benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Ihsan adalah Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu. ” Dia berkata “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.” Umar radhiyallahu anhu berkata Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadaku “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” HR Muslim Diriwayatkan oleh Muslim 8. Baca Juga Kultum Singkat Tentang Kejujuran Penjelasan Hadits Hadits ini menunjukkan adanya contoh berpakaian yang bagus, berperilaku yang baik dan bersih ketika datang kepada ulama, orang terhormat atau penguasa. Karena jibril datang untuk mengajarkan agama kepada manusia dalam keadaan seperti itu. Pengertian Islam Islam menurut bahasa maknanya tunduk dan berserah diri kepada Allah. Sedang menurut istilah Islam adalah melaksanakan lima amalan pokok, yaitu bersyahadat bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Menegakkan shalat lima waktu pada waktunya, dengan menyempurnaka syarat dan rukunnya, serta memenuhi sunnah dan adab-adabnya. Membayar zakat, puasa Ramadhan dan berhaji kepada Baitullah sekali dalam hidupnya bagi siapa saja yang mampu melaksanakannya. Pengertian Iman Iman secara bahasa artinya At Tashdiq membenarkan dengan hati. Sedang secara istilah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang wahid satu, ahad esa, fard sendiri, shamadtempat bergantung, tidak mengambil shahibah teman wanita dan istri, juga tidak memiliki waladanak. Dia adalah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya, tidak ada sekutu di dalam kekuasaan-Nya. DialahAl-Khaliq yang menciptakan, Ar-Raziq Pemberi rizki, Al-Mu’thi Pemberi anugrah, Al-Maani’ Penahan pemberian, Al-Muhyi Yang menghidupkan, Al-Mumit Yang mematikan, sekaligus yang mengatur seluruh urusan makhluk-Nya. Dialah Dzat yang berhak diibadahi, satu-satu-Nya tanpa ada yang lain, dengan segala macam ibadah; berupa khudhu’ tunduk, khusyu’, khasyyah takut, inabah taubat, qashd niat, thalab memohon, do’a, menyembelih, nadzar dan sebagainya. Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman dengan segala apa yang Dia kabarkan dalam Al-Qur`an, atau yang diceritakan oleh Rasul-Nya tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan bahwasanya Dia tidak sama dengan makhluk-Nya dan bagi-Nya kesempurnaan mutlak dalam hal sifat dan nama-nama tersebut, dengan menetapkannya untuk-Nya tanpa tamtsil menyerupakannya dan menyucikannya tanpa ta’thilmenghilangkan maknanya. Meyakini dengan kuat bahwa Allah memiliki para malaikat yang diciptakan dari cahaya, mereka tidak pernah membantah perintah-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya dengan kebenaran yang nyata serta petunjuk yang jelas. Dan bahwasanya ia adalah Kalam Allah yang Dia firmankan dengan sebenarnya sebagaimana yang Dia kehendaki dan menurut apa yang Dia inginkan. Membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dan untuk kafir kepada segala sembahan selain-Nya. Serta keyakinan bahwa semua Rasul adalah benar, mulia, luhur, mendapat petunjuk dan menunjuki orang lain. Mereka telah menyampaikan apa yang karenanya mereka diutus oleh Allah, tanpa menyembunyikan atau mengubahnya sedikitpun. Meyakini dengan pasti kebenaran setiap hal yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab suci-Nya dan setiap hal yang diberitakan oleh Rasul-Nya Shalallahu alaihi wa sallam mulai dari apa yang akan terjadi sesudah mati, seperti fitnah kubur, adzab dan nikmat kubur, serta apa yang terjadi sesudah itu berupa kebangkitan dari kubur, mahsyar tempat berkumpul di akhirat, shuhuf catatan amal, hisab perhitungan, mizan timbangan, haudh telaga, shirath titian, syafa’at pertolongan, Jannah dan Naarserta apa-apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para penghuninya. Dan membenarkan dengan sesungguhnya bahwa apa yang terjadi, baik berupa kebaikan ataupun keburukan merupakan qadha` Allah dan takdir-Nya. Sesungguhnya keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath 4, “Untuk menambah keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya.” Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail alaihimus salaam.” Islam dan Iman Sesungguhnya Islam dan iman apabila bertemu dalam satu tempat, maka Islam ditafsirkan sebagai amalan-amalan lahir, sedangkan iman ditafsirkann sebagai amalan-amalan batin yang berupa keyakinan. Namun jika keduanya disebut secara tersendiri atau terpisah, maka masing-masing dari keduanya ditafsirkan dengan tafsir yang lain, yaitu bahwa, Islam ditafsirkan dengan keyakinan dan amalan-amalan lahir, sebagaimana halnya iman juga ditafsirkan demikian. Keduanya merupakan sesuatu yang wajib, sehingga keridhaan Allah tidak akan bisa diraih dan seseorang tidak akan bisa selamat dari siksa-Nya kecuali dengan kepasrahan lahir yang disertai dengan keyakinan hati. Karenanya, tidak boleh memisahkan antara keduanya. Maka dari itu, seseorang tidak akan dapat menyempurnakan keimanan dan keislamannya yang telah diwajibkan atasnya kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi laranngan-larangan-Nya. Sebagaimana kesempurnaan tidak mengharuskan sampainya pada puncak yang dituju, karena adanya perbedaan tingkatan sesuai dengan tingginya kuantitas dan kualitas amal serta keyakinan. Pengertian Ihsan Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak bisa maka hendaknya meyakini bahwa Allah melihat kita. Jadi ihsan merujuk pada kekhusyu’an dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah. Hari Kiamat dan Tanda-tandanya Waktu kapan datangnya hari kiamat, hanya Allah yang mengetahuinya. Tidak seorang pun dari makhluk-Nya yang diberi tahu, baik malaikat maupun para rasul. Maka Rasulullah ketika ditanya, “Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya”. Beliau bersabda “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Namun beliau mengabarkan tanda-tandanya, yaitu Budak Perempuan Melahirkan Anak Tuannya. Maksudnya kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya. Jika Orang-orang Miskin dan Penggembala Domba Berlomba-lomba Meninggikan Bangunan Yaitu apabila urusan telah terbalik-balik. Hingga orang-orang yang rendah dan hina menjadi pemimpin umat. Urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Banyaknya harta dan perhiasan, menyebarnya kesombongan dan pemborosan dan manusia berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Hadits ini juga menyatakan adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan.” Tanya Jawab Merupakan Salah Satu Metode Pembelajaran Tanya jawab merupakan salah satu metode tarbiyah, baik masa lalu maupun saat ini. Rasulullah banyak menggunakan metode ini dalam mengajar para sahabatnya. Karena medote ini akan menarik perhatian dan mempersiapkan otak untuk menerima jawaban ilmu yang benar. Wallahu a’lam. Pemuda Muslim Yang Selalu Memperbaiki Hati dan Diri Programmer Blogger Desainer
Kali ini akan dishare kumpulan hadits tentang iman lengkap dalam tulisan bahasa arab dan artinya. Hendaknya kita sebagai seorang muslim memahami apa hakikat keimanan yang benar dalam agama islam. Semua perkara iman, islam dan ihsan ini bisa kita temui di berbagai dalil baik ayat suci Al Quran dan hadits Rasulullah SAW. Pengertian iman sendiri Secara bahasa berarti pembenaran hati, kemantaban hati atau percaya,. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan perbuatan. Dengan demikian, pengertian iman kepada ALLAH SWT adalah membenarkan dengan hati bahwa ALLAH SWT itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Adapun secara syari’at, iman berarti mengetahui ALLAH SWT dan sifat-sifatnya disertai dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Dengan begitu, seorang muslim bisa dikatakan memiliki iman yang sempurna jika ia memenuhi semua unsur tersebut. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Pembahasan iman ini sangatlah luas, kita bisa melihat berbagai dalilnya dalam kitab suci Al Quran dan hadist hadist tentang iman. Dalam sebuah ayat Al Quran, ALLAH SWT berfirman sebagai berikut إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ Artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” QS al-Hujurât 15. Iman sendiri berbgai macam, jika kita merujuk kepada rukun iman dalam islam. Maka ada Iman kepada ALLAH SWT, Iman kepada malaikat, Iman kepada kitab ALLAH SWT, Iman kepada Rasul, Iman kepada hari akhir serta Iman kepada qada dan qadar takdir baik dan buruk dari ALLAH SWT. Keimanan ini sangatlah penting karena merupakan bekal kita kelak di akhirat. Seorang muslim yang beriman dan bertakwa kepada ALLAH SWT, maka insyaallah kita akan masuk dalam syurga dan ALLAH SWT ridho kepada kita. Namun menjadi hamba yang beriman tidaklah mudah, terkadang iman naik dan turun tidak menentu. Untuk itu perlu kiranya kita mempelajari sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits hadist tentang iman agar kita selalu daam ketaatan dan amal shaleh. Dan untuk lebih jelasnya simak berikut ini daftar kumpulan hadits tentang iman islam dan ihsan lengkap dalam lafadz arab dan terjemahan bahasa Indonesianya. Hadits Tentang Iman, Islam dan Ihsan Lengkap حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَاالْاِيْمَانُ؟ قَالَ الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَمَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ الْاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ مَتَى السَّـاعَةُ؟ قَالَ مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَلَ رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا هَذاَ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ. Artinya Hadits Abu Hurairah ra. Dimana ia berkata “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas bertanya “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab “Iman adalah kamu percaya kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan setelah mati”. Ia bertanya “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadhlan”. Ia bertanya “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa seakan-akan melihatNya maka beryakinlah bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau menjawab “Orang yang ditanya tentang hari kiamat itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya yaituapabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian Nabi SAW. Membaca ayat yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”. HR Bukhari; Muslim . حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.رواه البخاري Artinya Abdullah ibn Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Hanzhalah ibn Abi Sufyan telah memberitakan kepada kami, dari Ikrimah ibn Khalid, dari ibn Umar berkata Rasulullah saw. telah bersabda “Islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, dan berpuasa dibulan Ramadhan”. Al-Bukhari حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيْمَانِ Ibnu Umar berkata bahwa Nabi SAW melewati melihat seorang lelaki kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi SAW telah bersabda Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman. أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم] Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" Riwayat Bukhari dan Muslim حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ اَخَاهُ فِيْ الحَيَاءِ فَقَالَ الحَيَاءُ مِنَ الْلأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Umar Ra katanya Nabi Saw mendengar seorang menasehati saudaranya dalam hal malu dan menganggap perbuatan itu buruk, lalu Nabi Saw bersabda. malu itu sebagian dari iman” الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, iman yang paling utama adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”HR Bukhori, HR Muslim. الايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان رواه الطبران Artinya “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”HR Thabrani عَنْ اَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَ جَدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَاَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّحُ اِلَّا لِلهِ وَ اَنْ يَكْرَهَ اَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ اَنْ يُقْذَفَ فِى الْنَّا رِ. رواه البخاري Artinya Dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda tiga hal bila terdapat pada diri seseorang, maka ia mendapatkan manisnya iman, yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain, apabila ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan apabila ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka. HR. Bukhari Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya”. HR. Bukhari dan Muslim. لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ شَارِبُهَا حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ “Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” HR. Bukhari dan Muslim. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ “Tidak keimanan bagi mereka yang tidak memiliki amanah.” عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ - أَوْ تَمْلآنِ - مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا [رواه مسلم] Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy'ari' Suci itu sebagian dari iman, bacaan alhamdulillaah memenuhi timbangan, bacaan subhaanallaah dan alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya".HR. Muslim عَنِ ابْنِ حَجَرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أْلإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِاْلقَلْبِ وَقَوْلٌ بِالِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ رواه ابن ماجه والطبراني Artinya “Dari Ibnu Hajar Radhiyallahu Anhu beliau berkata Rasulullah SAW telah bersabda Iman adalah Pengetahuan hati, pengucapan lisan dan pengamalan dengan anggota badan” Ibnu Majah dan At-Tabrani. حَدِيْثُ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لَآ اِلَهَ اِلَّا اللهُ فَمَنْ قَالَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ عَصَمَ مِنِّيْ مَا لَهُ وَنَفْسَهُ اَلَّا بِحَقّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Katanya “Aku diarahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Siapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya bebas dari aku kecuali dibenarkan oleh syariat dan segala-galanya terserahlah kepada Allah Swt untuk menentukannya. عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ اْلخُدْرِيِّ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله ِصَلي الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ رَّأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ . رواه مسلم [ رقم 49 ] Artinya “Dari Abu Sa’d Al-Khudriy Radhiyallahu Anhu, beliau berkata Saya pernah mendengar Rasulallah SAW berkata barang siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran maka hendaknya dia merubah dengan kekuasannya, apabila dia merasa tidak mampu maka dengan lisannya, maka apabila dia tidak mampu hendaknya dia membenci kemunkaran tersebut dengan hatinya, yang demikian itu adalah tingkatan iman yang paling lemah ” Muslim. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ رواه البخاري و مسلم Artinya “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah hari akhir maka hendaknya dia mengormati tidak menyakiti tetangganya orang yang berada di sekelilingnya” . Bukhari dan Muslim. وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra katanay Rasulullah Saw bersabda “Iman terdiri lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu dalah salah satu dari bagian-bagian Iman.” حَدِيْثُ اَنَسِ بن مالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَحِيْهِ اَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يَحِبُّ لِنَفْسِهِ Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra katnya Nabi Saw telah bersabda “tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” Demikianlah artikel mengenai kumpulan hadits tentang iman lengkap bahasa arab dan artinya. Insyaallah semua daftar hadist Nabi Muhammad SAW diatas bermanfaat dan bisa menjadi referensi pengetahuan dalam memehami apa arti keimanan, islam dan ihsan yang benar. Wallahu a'lam.
Hadits arbain – Sebagaimana disepakati dan seharusnya kita sebagai orang islam yang beriman yakini, bahwa hadits merupakan sumber hukum kedua dalam islam setelah Al-Quran. Karenanya, kemampuan untuk memahami hadits menjadi faktor penting dalam kehidupan beragama Islam itu sendiri. Hadits Arbain sendiri memiliki beberapa keistimewaan. Kandungan hadits-hadits pilihan Imam Nawawi ini memiliki tema-tema sederhana sehingga mudah dipahami, sekaligus memiliki makna mendalam dan cakupan yang luas bagi aspek kehidupan manusia. Seperti bagaimana pedoman dasar dalam beragama Islam, tatacara hablum minallah dan hablum minannas. Juga rambu-rambu adab yang seharusnya diperhatikan oleh seorang Muslim. Tema-tema tersebut insha Allah tetap relevan sampai kapan pun. Diantaranya ialah, hadits arbain nawawi ke 2 yang mengutarakan perkara iman, islam, dan ihsan. Malaikat Jibril yang bertanya tentang iman, islam dan ihsan عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ ” بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ذَاتَ يَوْمٍ، إذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ. حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم . فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ،وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إنْ اسْتَطَعْت إلَيْهِ صَدَقْت . فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ!قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَنْ تُؤْمِنَ بِاَللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ صَدَقْت. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّك تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ. قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا؟ قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ. ثُمَّ انْطَلَقَ، فَلَبِثْتُ مَلِيًّا،ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ؟.قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata “Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah Tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” Kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “Beritahukan aku tentang Iman.“ Lalu beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.“ Kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang ihsan.“ Lalu beliau bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya”. Beliau bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.“ Dia berkata, “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya. “ Beliau bersabda “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya.“ Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau Rasulullah bertanya, “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.“ Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian bermaksud mengajarkan agama kalian.“ Riwayat Muslim Hadits arbain ini mengandung banyak sekali intisari. Jika ada yang mau menjelaskan hadits ini secara keseluruhan pasti bisa menuangkan dalam satu kitab tebal. Beberapa yang dapat kami sampaikan secara singkat, sebagai berikut Menjelaskan akhlak Nabi yang begitu mulia. Beliau mau duduk bersama para sahabat, bukan hanya menyendiri dan melihat yang lain dari tempat tinggi. Adanya rukun islam yang lima dengan keutamaan shalatnya. Iman dan islam tidaklah sama, karena Jibril bertanaya, “Beritahukan padaku tentang islam.” Kemudian setelah itu bertanya, “ Beritahukan padaku tentang iman.” Islam untuk amalan-amalan lahiriah, seperti kata-kata lisan dan amalan-amalan anggota badan, sementara iman untuk amalan-amalan batin, seperti keyakinan dan amalan-amalan hati. Seperti firman Allah berikut قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Orang-orang Arab Badui itu berkata “Kami telah beriman”. Katakanlah “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Adanya rukun iman yang enam, keenam rukun ini akan menciptakan kekuatan memohon pada diri seseorang untuk taat dan takut kepada Allah. Siapapun yang mengingkari satu di antara enam rukun ini berarti dia kafir, karena mendustakan apa yang disampaikan Rasulullah. Penegasan adanya malaikat yang wajib diimani. Para malaikat bisa berubah wujud ke bentuk lain, karena Jibril mendatangi Nabi dalam bentuk seorang lelaki seperti disebutkan dalam hadits arbain ini. Malaikat adalah materi, seperti yang disampaikan Allah dalam surat Fathir 1 “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap.” Kiamat adalah hal besar, tiada yang mengetahui kapan kiamat terjadi, kecuali Allah semata. Karena itu tanda-tandanya diberitahukan agar manusia mempersiapkan diri menghadapinya. Semoga Allah berkenan membuat sobat Cahayaislam dan seluruh mukmin mukminat siap untuk menghadapi hari akhir ini. Saat tidak mengetahui sesuatu, kita perlu untuk bertanya. Seperti Jibril yang bertanya “Beritahukan padaku apa tanda-tandanya.” Orang yang bertanya suatu ilmu adalah guru jika memang tahu jawabannya, dalam hadits arbain ini yang mengajari adalah Nabi tetapi karena pertanyaan yang disampaikan Jibril, Jibril dalam hal ini bertindak sebagai guru, mengapa? Seorang murid yang mengetahui suatu permasalahan kemudian menanyakan hal tersebut meski sudah tahu jawabannya karena ia merasa permasalahan tersebut penting untuk diketahui banyak orang, dan ketika pertanyaan tersebut dijawab dengan tepat di situlah murid sama seperti guru. Kumpulan hadits arbain dan penjelasannya tidak hanya mudah dipahami namun juga mampu menjawab persoalan kehidupan pribadi maupun sosial. Dengan semakin membumi’nya hadits arbain, masih diperlukan sebuah kajian yang mengupas seluk-beluk yang ada di dalamnya. Agar keistimewaan yang dikandung dapat dinikmati dengan mudah oleh berbagai kalangan, termasuk sebagian dari kita yang tak sempat berguru langsung kepada ustad atau guru ngaji. Jangan lupa juga untuk mengintip sejenak ulasan hadits arbain nomor 1 yang telah tim Cahayaislam jelaskan dikesempatan sebelumnya disini. Semoga artikel tentang hadits arabain nomor 2 ini dapat sedikit menjawab kebutuhan pembaca dan mengilhami berbagai hikmah dari kebaikan hadits ini.
Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 1 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain Ke 12 – Cara Manajemen Waktu Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman Melanjutkan kajian kita, beranjak ke nomor 13 yaitu hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam, beliau bersabda لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه “Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” HR. Bukhari dan Muslim Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang merupakan salah satu sahabat yang mulia. Beliau adalah salah satu orang terdekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena beliau adalah pembantunya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau karenanya menjadi salah satu sahabat dengan riwayat hadits paling banyak. Dan beliau didoakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam doa yang masyhur اللهم أكثر ماله وولده وأدخله الجنة “Ya Allah perbanyaklah hartanya, perbanyaklah anak-anaknya dan masukkanlah dia kedalam surga.” Maka buah yang ditanam oleh Anas bin Malik Radhiyllahu Anhu berbuah dua kali dalam setahun ketika pohon buah orang lain hanya berbuah satu kali saja. Kemudian Anas bin Malik memiliki anak-anak yang sangat banyak. Bahkan dengan kedua tangan beliau, beliau menguburkan sekitar 125 orang dan mengenai doa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ini beliau mengatakan, “Saya telah melihat dua dari tiga doa tersebut di dunia. Dan saya sedang menunggu yang ketiga.” Jadi yang pertama doa tentang banyaknya harta, sudah beliau rasakan. Doa tentang banyaknya anak-anak juga telah beliau rasakan. Dan beliau tinggal menunggu satu lagi yaitu doa dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar beliau bisa masuk surga. Dan insyaAllah beliau akan mendapatkan itu juga. Beliau wafat pada tahun 93 Hijriyah. Dan diberikan umur yang cukup panjang -semoga Allah meridhai beliau- Dalam hadits ini beliau meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه “Tidaklah beriman seseorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Terjemah leterleknya seperti ini, nanti kita akan tafsirkan apa arti iman yang dinafikan di sini. Ini adalah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan hadits ini ditafsirkan oleh riwayat Ahmad yang bunyinya لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ “Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat iman iman yang sesungguhnya sampai dia mencintai untuk manusia apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” HR. Ahmad Jadi, yang dimaksud iman yang dinafikan dalam hadits riwayat redasi Al-Bukhari dan Muslim adalah kesempurnaan iman. Sehingga hadits ini bisa kita tafsirkan dengan mengatakan, “Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” Jadi yang dinafikan adalah kesempurnaan iman, bukan pokok iman. Artinya kalau sampai ada di antara kita yang belum sampai derajat/tingkat ini, masih tidak mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, maka berarti orang tersebut tidak serta merta menjadi kafir. Karena yang dinafikan bukan pokok iman. Yang dinafikan adalah kesempurnaan iman. Namun kesempurnaan iman yang dimaksud adalah kesempurnaan iman yang wajib. Sebagaimana disebutkan dengan tegas oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidzahullahu Ta’ala dalam Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in. Jadi yang dinafikan adalah kesempurnaan iman yang wajib. Artinya kalau kita belum sampai derajat ini, kalau kita masih belum mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, maka berarti ada yang kurang dengan iman kita. Bahkan sebagian ulama mengatakan berarti kita masih berdosa. Maka wajib bagi setiap muslim untuk mencintai bagi saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri. Kita wajib melakukan ini karena ini adalah kewajiban dalam Islam. Kalau tidak maka berkurang dari kita kesempurnaan iman yang wajib, berarti masih kurang iman kita. Dan mencintai di sini adalah amalan hati. Jadi yang wajib bagi kita adalah mengamalkan -dalam hal ini- dalam hati kita yaitu ketika kita mendapatkan kebaikan baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan akhirat maka kita harus mencintai hal itu juga untuk saudara kita. Kita mengharapkan agar orang lain juga bisa merasakan kebaikan itu. Kita berharap orang lain juga bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kita dapatkan. Ini artinya adalah mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Bbukan berarti kita harus memberikan apa yang kita miliki kepada mereka, bukan itu yang menjadi kewajiban. Yang menjadi kewajiban kita adalah amalan hati. Bahwasannya ketika kita -misalnya- memiliki ilmu agama yang bermanfaat, maka kita berharap saudara kita yang lain juga bisa merasakan ilmu itu. Ketika kita mendapatkan sebuah nikmat duniawi, maka kita juga senang kalau seandainya saudara kita mendapatkan nikmat itu juga. Ini yang menjadi kewajiban kita. Tidak berarti kalau kita punya mobil, berarti kita harus memberikannya kepada saudara kita. Atau kalau kita punya uang yang banyak kita harus membaginya dengan saudara kita. Itu baik, tapi itu bukan suatu kewajiban dan itu bukan yang dimaksudkan oleh hadits ini. Yang penting adalah mengolah hati kita karena ini adalah amalan hati, kita mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Dan kita juga membenci untuk saudara kita apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Kita senang kalau dihormati, kita senang kalau dihargai, maka kita juga harus menghargai orang lain dan menghormati mereka. Kita tidak suka untuk didzalimi, tidak suka untuk direndahkan, maka kita tidak boleh pula untuk mendzalimi dan merendahkan orang lain. Ini adalah makna dari hadits ini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam menafsirkan hadits yang agung ini dengan beberapa hadits yang lain. Diantaranya adalah hadits riwayat Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhuma bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ “Barangsiapa yang ingin dihindarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ajal menjemput dia dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah dia mendatangi manusia dengan cara yang dia suka kalau manusia mendatangi dia dengan cara itu.” HR. Muslim Jadi kalau kita ingin dihindarkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga ini adalah kemenangan yang sesungguhnya, ini adalah keberuntungan yang sejati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ “Maka barangsiapa yang dihindarkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka dia sungguh telah menang.” QS. Ali-Imran[3] 185 Ini adalah kemenangan yang sesungguhnya. Bagaimana caranya? Caranya hendaklah kita mempertahankan iman kita sampai kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetap beriman kepada Allah dan hari akhir kita pertahankan sampai akhir hayat kita. Harus istiqamah diatas agama ini. Kemudian hendaklah kita mendatangi manusia dengan cara yang kita suka kalau orang-orang mendatangi kita dengan cara itu. Artinya kita memperlakukan mereka dengan cara yang baik, sebagaimana kita suka kalau orang-orang memperlakukan kita dengan cara yang baik pula. Kita pergauli manusia cara dan akhlak yang baik. Kita perlakukan mereka dengan cara yang kita sukai kalau seandainya orang-orang itu memperlakukan kita dengan cara itu. Maka ini sesuai apa yang disampaikan di depan. Tidaklah sempurna iman seseorang sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Kita semuanya ingin diperlakukan dengan baik. Berarti manusia juga seperti itu, orang lain juga seperti itu. Maka hendaknya kita mencintai untuk mereka apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, hendaknya kita memperlakukan manusia dengan cara yang baik pula. Dalam hadits riwayat Muslim yang lain, dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu beliau meriwayatkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan kepada saya يا أبا ذَرّ،إنِّي أَرَاك ضعِيفًا، وَإنِّي أُحِبُّ لكَ مَا أُحِبُّ لِنَفسي “Wahai Abu Dzar, sungguh aku melihatmu adalah orang yang lemah. Maka aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri.” HR. Muslim Nasehat yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar, beliau jelaskan demikian. Kemudian beliau menyambung لا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْن “Wahai Abu Dzar, jangan sekali-kali engkau menjadi pemimpin untuk dua orang.” Setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Ada sebagian orang yang titik lemahnya adalah ketika menjadi pemimpin, ketika memegang jabatan. Sebagian orang kelemahannya bukan di tahta, tapi ketika berhadapan dengan harta. Sebagian orang lagi titik lemahnya ketika berhadapan dengan wanita lawan jenis. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenal karakter sahabat-sahabat beliau. Beliau memahami kelebihan masing-masing dan juga memahami kekurangan masing-masing. Maka ini masyaAllah sebuah hadits yang berbicara tentang kelemahan Abu Dzar tapi disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau mengorbankan -bisa dikatakan- kehormatan beliau karena beliau disebut sebagai orang yang lembah di hadits ini. Tapi beliau tetap menyampaikan hadits ini karena dalam hadits ini ada ilmu yang agung, ada ilmu agama yang harus disampaikan, umat harus tahu tentang hal ini. Dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mempraktekkan hadits yang beliau sampaikan. Beliau mengatakan, “Wahai Abu Dzar, sungguh aku melihatmu sebagai orang yang lemah dan aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri, maka jangan engkau menjadi pemimpin untuk dua orang apalagi lebih” Dua orang saja beliau khawatir akan tidak amanah. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan وَلا تُوَلَّيَنَّ مَالَ يتِيمٍ “Jangan juga engkau mengurus harta anak yatim.” Di sini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat bahwasannya Abu Dzar bukan orang yang cakep untuk mengurus dua hal ini. Maka beliau melarang Abu Dzar untuk berurusan dengan dua hal ini. Tentunya ditengah lautan kelebihan yang dimiliki oleh Abu Dzar Radhiyallahu Anhu. Tapi di sini ada kelemahan Abu Dzar yang dideteksi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau memperingatkan Abu Dzar untuk tidak mengurusi dua hal ini sebagai pengamalan dari cinta kepada sesama muslim, cinta kepada sahabat beliau, sebagai implementasi bahwasannya beliau telah mencapai derajat iman yang sempurna. Dan konsekuensinya adalah beliau mencintai untuk sahabat beliau apa yang beliau cintai untuk diri beliau sendiri. Beliau ingin selamat di akhirat. Maka beliau ingin agar Abu Dzar juga selamat di akhirat dengan tidak mengurus dua hal ini. Jadi hadits ini juga menunjukkan bahwasannya kalau kita mendapati saudara kita ada kekuranga/kelemahan, maka hendaknya kita berusaha meluruskan/memperbaiki, membuat dia lebih baik lagi, termasuk dengan mengingkari kesalahan dia jika dia salah. Karena kita tentunya juga ingin kalau saudara kita selamat di akhirat, ingin hisab dia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berat. Sebagaimana kita juga ingin seperti itu. Kita ingin selamat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita ingin selamat di akhirat. Maka kalau kita mendapatkan saudara kita melakukan suatu kesalahan atau berada pada kondisi yang tidak baik, maka kita berusaha untuk menyelamatkan diri, menegur dia, menasehati dia. Ini termasuk juga poin pembahasan hadits ini. Hadits ini juga punya pesan tersirat. Kalau pesan tersuratnya adalah kita harus mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, pesan tersiratnya adalah kita harus membenci untuk saudara kita apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Jadi, kalau kita tidak suka untuk dizalimi, dihina, direndahkan, maka kita tidak boleh melakukan hal itu untuk saudara-saudara. Kita juga harus membenci hal itu untuk saudara kita, jangan lakukan itu kepada saudara kita. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam mengatakan الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ “Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain. Janganlah dia mendzaliminya, janganlah dia merendahkannya, janganlah dia menghinakannya.” HR. Muslim Ini semua dilarang. Dan ini selaras dengan hadits yang menjadi pembahasan kita hari ini. Kita semuanya tidak suka kalau kita diperlakukan dengan tiga hal tadi itu; didzalimi, direndahkan, dihinakan, kita tidak suka itu. Maka kita juga harus membenci hal itu untuk saudara kita. Tidak boleh kita melakukan hal itu untuk saudara kita sesama muslim. Juga dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits yang masyhur dari Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala dengan sanad yang shahih. Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu Bahwasanya ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau mengatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.” Subhanallah, beliau jujur, beliau tidak bisa menyembunyikan gelora muda beliau. Memang anak muda itu syahwatnya sedang kuat-kuatnya. Makanya kalau ada anak muda yang bisa mengontrol imannya, bisa memenangkan iman diatas syahwatnya, bisa memenangkan akal sehat diatas syahwatnya, itu adalah sebuah prestasi yang kemudian orang yang melakukan itu dipuji oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau شاب نشأ في طاعة الله “Diantara 7 golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh di atas ketaatan.” Pemuda yang bisa menaklukkan syahwatnya, pemuda yang bisa mengalahkan syahwatnya dengan kuatnya iman dan akal sehat. Pemuda ini terus terang mengatakan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam minta izin, “Yaa Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.” Maka para sahabat marah, mengingkari dia dengan keras. Tapi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mereka untuk menyikapi sahabat ini dengan keras. Tapi beliau mengajak pemuda untuk diskusi. Dia katakan, “Apakah engkau rela ibumu dizinai oleh orang lain?” Maka dia mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah.” Dan orang-orang juga tidak rela kalau ibu mereka dizinai. Terus kemudian bertanya lagi, “Apakah engkau rela hal ini terjadi pada anak perempuanmua?” Lagi-lagi sahabat ini mengatakan “Tidak Rasulullah, aku tidak rela kalau putriku dizinai.” Dan tidak ada seorangpun yang rela kalau putrinya dizinai. “Apakah engkau rela jika ini terjadi pada saudarimu? Apakah engkau rela jika hal ini terjadi pada bibimu?” Dan semuanya dijawab oleh pemuda ini dengan mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah, aku tidak rela kalau itu terjadi pada saudariku, bibiku.” Dan orang-orang juga tidak rela kalau itu terjadi pada keluarga mereka. Di sini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak pemuda ini untuk menyempurnakan imannya. Beliau mengajak pemuda ini untuk mengamalkan sebuah tanda iman yang sempurna. Yaitu mencintai untuk saudara kita sesama muslim apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Dan membenci untuk saudara kita sesama muslim apa yang benci untuk diri kita sendiri. Kalau kita tidak rela zina itu terjadi pada ibu kita, putri kita, saudari kita, bibi kita, maka bagaimana kita rela hal tersebut terjadi pada ibunya orang lain, putrinya orang lain, saudari orang lain, bibinya orang lain. Dan tidak ada wanita di dunia ini kecuali mereka memiliki salah satu sifat itu. Apakah itu ibunya teman kita, atau dia adalah putri dari salah seorang muslim atau dia adalah saudarai dari muslim nun jauh di sana, dan seterusnya. Maka kalau kita tidak rela itu terjadi pada keluarga kita, maka kita juga tidak boleh rela hal itu terjadi pada orang lain. Kita harus hindari itu. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang pemuda ini dan mendoakannya agar diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberikan taufik dalam kehidupannya. Kalau sampai kita tidak mempraktekkan hal ini, maka konsekuensinya adalah kita masih berdosa, kita masih belum memiliki kesempurnaan iman yang wajib, masih ada yang banyak kita perbaiki dalam kehidupan kita. Dan juga celaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Muthaffifin وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ﴿١﴾ Wail adalah lembah di jahanam. Menurut penafsiran yang lain dia adalah “celaka”. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang mengurangi. Apa maksudnya mengurangi? Ditafsirkan dalam ayat yang selanjutnya الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ “Mereka adalah orang-orang yang kalau orang lain menakar untuk mereka, mereka ingin diberikan haknya secara sempurna.” QS. Al-Mutaffifin[83] 2 وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ﴿٣﴾ “Tapi kalau giliran mereka yang menakar atau mereka yang menimbang, maka mereka mengurangi.” QS. Al-Mutaffifin[83] 3 Jadi kalau berbicara tentang hak, mereka kuat menuntut, harus penuh, harus lengkap, tidak boleh dikurangi. Tapi ketika berbicara tentang kewajiban mereka seenaknya sendiri, timbangan mereka kurangi, takaran tidak mereka penuhi, hati-hati kalau sampai kita seperti itu. Berarti kita belum mewujudkan sifat mukmin yang tadi itu. Mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri dan membenci untuk mereka apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Simak penjelasan selanjutnya pada menit ke-2705 Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Lihat juga Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Pencarian hadits tentang cinta dalam diam, hadist tentang cinta wanita, hadist tentang cinta beserta arabnya, hadist tentang cinta arab, hadist tentang cinta kepada lawan jenis, hadits tentang perasaan, hadist tentang cinta kepada lawan jenis beserta arab dan artinya, hadits tentang mengungkapkan perasaan, hadits tentang cinta kepada sesama muslim, hadits tentang cinta arbain nawawi, hadits tentang cinta dalam Islam.
hadits arbain tentang iman